Makna, Hukum, dan Faedah dari Melaksanakan Aqiqah yang Perlu Anda Ketahui

Makna, Hukum, dan Faedah dari Melaksanakan Aqiqah yang Perlu Anda Ketahui – Untuk pemahaman aqiqah sendiri yaitu adalah bentuk syukur kita pada Allah SWT atas kelahiran buah hati dengan selamat dan sehat. Umumnya aqiqah dilaksanakan tujuh hari sesudah kelahiran anak dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing. Jumlah hewan yang disembelih tentu saja tidak sama, untuk anak laki-laki diharuskan menyembelih 2 ekor kambing, sedang untuk anak perempuan cukup 1 ekor kambing.

Untuk hukum aqiqah sendiri ialah sunnah, jadi tidak wajib bagi tiap orangtua untuk melakukan aqiqah terkecuali bagi orangtua yang telah bernadzar akan melaksanakan acara aqiqah saat anaknya lahir.

Sesudah membahas mengenai pemahaman dan hukum, dikesempatan ini kami akan mengulas ketetapan aqiqah. Apa saja ketetapan dalam melaksanakan aqiqah?

Hewan ternak yang disembelih harus berupa kambing atau domba. Di sini hewan ternak dianjurkan minimum harus berusia enam bulan atau dewasa, jadi benar-benar tidak disarankan untuk menyembelih hewan ternak dengan usia di bawah enam bulan.

Untuk anak laki-laki diharuskan menyembelih dua hewan ternak, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu hewan ternak. Sebelum diberikan pada tetangga, fakir miskin, atau saudara dekat, daging harus dibuat terlebih dulu dengan masak. Untuk orangtua yang melakukan aqiqah bisa menyicip sedikit bagian dari aqiqah itu, terkecuali buat orangtua yang telah bernadzar atau janji.

Manfaat dari Melakukan Acara Aqiqah

Untuk manfaat sendiri tentu saja benar-benar banyak, serta di bawah ini beberapa faedah yang perlu teman-teman kenali dari melakukan acara aqiqah.

  • Kita otomatis sudah mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Ikuti Sunnah Rasulullah Muhammad SAW
  • Untuk bentuk syukur kita pada Allah SWT atas lahirnya buah hati dengan selamat dan sehat
  • Otomatis mengajari diri untuk berbagi pada sesama, baik itu kepda tetangga, saudara atau fakir miskin
  • Mengajak orangtua untuk mendidik serta membina buah hatinya menjadi anak yang shaleh serta shalehah

Penerapan Aqiqah

Untuk penerapan aqiqah sendiri sama yang ksmi sebutkan di atas yaitu sunnah di hari ke-7 dari anak dilahirkan. Bagi orangtua yang dapat atau mungkin dengan kata lain perekonomian mencukupi benar-benar disarankan untuk melakukan aqiqah selekas mungkin, buat orangtua yang tidak dapat melakukan aqiqah tidak apa-apa tidak melakukan aqiqah.

Info Jasa Aqiqah

Pengertian, Sejarah, dan Tata Cara Penerapan Aqiqah

Pengertian, Sejarah, dan Tata Cara Penerapan Aqiqah – Pada umumnya pemahaman aqiqah ialah pernyataan rasa syukur seorang hamba kepada Allah yang sudah memberikan karunia-Nya berupa kedatangan seorang anak. Tidak cuma jadi tradisi, aqiqah ialah kewajiban untuk setiap kaum muslim tanpa ada kecuali dengan ketentuan khusus.

Tentunya kalian sempat hadir minimal 1x acara aqiqah. Entahlah hanya temani orangtua atau memang diundang dengan cara langsung oleh yang punyai acara.

SEJARAH, PENGERTIAN AQIQAH, DAN TATA CARA PELAKSANAANNYA

Pada intinya hukum aqiqah ialah sunnah muakkad, dimana waktu realisasinya lebih afdhol di hari ke-7 sesudah kelahiran. Tetapi semua kembali ke tingkat potensi satu keluarga.

Jika di rasa belum mampu mengakikahkan anak saat masih bayi, karena itu bisa dibatalkan sampai si keluarga mampu. Walau sampai anak itu telah bergerak dewasa. Sebab menurut satu hadits tiap anak lahir pada kondisi “tergadai” :

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Berarti: “Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan buatnya di hari ke-7, digundul rambutnya serta dikasih nama’.” (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah 0. 3165, Ahmad 5/12).

Bagaimana pemahaman aqiqah lebih luas lagi? Silahkan kita baca penjelasannya lebih lanjut.

SEJARAH AQIQAH SEBELUM DAN SESUDAH MASA JAHILIYAH

Aqiqah sebenarnya telah menjadi adat sejak waktu pra Islam, yakni semenjak jaman jahiliyah. Saat itu penerapan aqiqah mempunyai arah yang lain dari tuntunan yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Adat pemotongan hewan dulunya bukan hanya untuk mengaqiqahkan bayi. Tetapi bangsa Arab mengerjakannya untuk beberapa perayaan, dari mulai hal pemujaan sampai untuk gestur dalam mengutarakan perasaan bahagia pada satu momen.

Salah satunya momen yang sangat ditunggu-tunggu bangsa Arab jahiliyah ialah kelahiran bayi laki-laki. Jika bayi laki-laki ada karena itu baru diselenggarakan aqiqah.

Tata langkah realisasinya hampir sama juga dengan aqiqah yang kita kenali sekarang yakni menyembelih hewan serta mencukur rambut anak. Bedanya ada rutinitas melumuri kepala anak dengan darah hewan yang disembelih.

Ini diterangkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ

Berarti: “Dulu kami pada saat jahiliyah jika salah seorang antara kami lahir anaknya, karena itu dia menyembelih seekor kambing serta melumuri kepala anaknya itu dengan darah sembelihan. Selanjutnya ketika Allah datang bawa Islam karena itu kami menyembelih seekor kambing serta mencukur rambutnya dan melumurinya dengan za’faran.” (HR. Abu Daud no. 2843).

Adat melumuri kepala anak dengan darah hewan ini selanjutnya dilarang oleh Rasulullah. Beliau memerintah untuk mengubah darah hewan dengan air bunga-bunga atau wangi-wangian, hal itu lebih mulia tentu saja.

Disamping itu sesudah Rasulullah SAW hadir serta menyempurnakan tata langkah beribadah aqiqah, anak wanita juga harus diaqiqahkan berdasarkan syari’at Islam. Dimana untuk anak laki-laki menyembelih dua ekor hewan sesaat untuk anak wanita cukup satu ekor saja.

PENJELASAN TENTANG PENGERTIAN AQIQAH

Secara bahasa kata Aqiqah datang dari kata ‘aqqu (عَقُّ) yang berarti “potong “, yang mempunyai dua tujuan yaitu menyembelih hewan serta mencukur rambut anak yang diaqiqah. Beberapa ahli menerangkan jika aqiqah sendiri adalah nama bagi hewan yang akan disembelih atau dipotong.

Setelah itu pemahaman aqiqah menurut tuntunan agama ialah proses penyembelihan hewan dalam rencana mensyukuri kelahiran seorang anak, baik itu anak laki-laki atau anak perempuan. Maksudnya tidak lain serta tidak bukan untuk berharap keridhaan Allah SWT.

Al-Jauhari, salah satunya ulama Ahlusunnah, memberikan tambahan pemahaman aqiqah ialah menyembelih hewan di hari ke-7nya, serta mencukur rambutnya. Berarti yakni menyembelih hewan di hari ke-7 sesudah kelahiran bayi dibarengi dengan memangkas beberapa rambut si bayi itu.

Lantas bagaimana dengan penerapan akikah sebetulnya? Haruskah dikerjakan di saat si anak berusia tujuh hari menurut hadits kisah Abu Daud di atas?

WAKTU PELAKSANAAN AQIQAH

قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـعَـقِـيْقَتةُ تُـذْبَحُ لِسَـبْعٍ وَلِأَرْبَعَ عَشَرَةَ وَلِإِحْدَى وَعِشْرِيْنَ

Artinya: “Kata Abu Hurairah R.A., Nabi (Muhammad) SAW bersabda, “Aqiqah itu disembelih di hari ke-7, atau ke-4 belas, atau keduapuluh satunya “.(HR. Baihaqi serta Thabrani)

Sama yang sudah diterangkan awalnya melakukan aqiqah untuk anak hukumnya sunnah muakkad. Dimana dalam satu hadits disarankan untuk menunaikannya di hari ke-7 dari kelahiran :

Tetapi, pada keadaan khusus tidak semua orang dapat melakukannya waktu si anak berusia tujuh hari. Faktanya kemungkinan bermacam, khususnya berkaitan situasi ekonomi yang kemungkinan belum mencukupi untuk membeli serta menyembelih hewan.

Islam ialah agama yang belum pernah memperberat umatnya. Aqiqah bisa dikerjakan di saat sudah dapat, dimana biaya telah memenuhi serta tercukupi untuk beli satu atau dua ekor kambing.

Keharusan aqiqah pada anak sebenarnya menjadi tanggung jawab ke-2 orangtua. Tetapi jika sampai dewasa orangtua belum dapat menunaikannya, karena itu sesudah dewasa si anak dibolehkan menyembelih hewan untuk mengaqiqahkan dirinya.

Serta satu kisah mengatakan bila Nabi Muhammad SAW mengaqiqahi diri kita waktu Beliau telah mencapai umur dewasa.

Bila anda untuk orangtua dapat menunaikan aqiqah anak di hari ke-7, karena itu segerakanlah jangan menahan-nahan. Bila tidak pernah hari ke-7, karena itu di hari ke-14, atau ke-21 sesudah kelahiran si bayi.

TATA CARA PELAKSANAAN AQIQAH

Tidak ada ketidaksamaan khusus dalam tata acara penerapan aqiqah anak laki-laki atau perempuan. Yang memperbedakan hanya jumlah hewan yang disembelih, lelaki dua ekor serta wanita satu ekor.

MENYEMBELIH KAMBING

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص مَنْ اَحَبَّ مِنْكُمْ اَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنِ اْلغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَ عَنِ اْلجَارِيَةِ شَاةٌ

Artinya: “Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berkeinginan untuk mengaqiqahkan anaknya karena itu lakukanlah. Untuk anak lelaki dua ekor kambing yang sepadan serta untuk anak wanita satu ekor kambing “.” (HR. Ahmad juz 2, hal. 604, no. 2725).

Waktu menyembelih hewan aqiqah disunnahkan membaca doa di bawah ini (dimana penyebutan “fulan” ditukar dengan nama anak yang diaqiqah) :

بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَن

Kambing yang dipakai untuk aqiqah jangan sembarangan umur. Kriterianya sama juga dengan kriteria kambing qurban, baik dari sisi umur, type, serta bebas dari cacat. Beberapa sumber mengatakan bila hewan yang dipakai untuk aqiqah disarankan kambing jantan.

Sekarang banyak pihak yang sediakan layanan aqiqah serta mengendalikan masalah persiapan hewan sembelihnya. Ada juga yang pilih pilihan membeli kambing berbentuk jadi atau telah dibuat, untuk disajikan pada acara aqiqah.

MEMASAK DAN MEMBAGIKAN DAGING AQIQAH

Daging aqiqah bisa diberikan sesudah dibuat atau langsung membagikannya sesudah disembelih seperti daging qurban.

Tetapi di negeri kita umumnya hewan aqiqah sesudah dipotong dibuat terlebih dulu baru selanjutnya diberikan pada beberapa orang yang memiliki hak. Daging yang telah dibuat bisanya disantap waktu pesta aqiqah atau dibawa pulang oleh beberapa tamu yang diundang.

Pembagiannya sama juga dengan daging qurban, beberapa bisa dikonsumsi oleh keluarga sebagiannya lagi diberikan pada fakir miskin serta tetangga. Bila faksi yang membuat aqiqah ingin bagikan semua daging itu tanpa ada sisa, hal tersebut juga tidak ada larangannya.

Tetapi, disunnahkan keluarga yang membuat aqiqah untuk turut merasai daging hewan yang disembelih sekitar sepertiga dari jumlah daging yang ada.

MENCUKUR RAMBUT

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ اْلحَسَنِ وَ اْلحُسَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ وَ سَمَّاهُمَا وَ اَمَرَ اَنْ يُمَاطَ عَنْ رُؤُوْسِهِمَا اْلاَذَى

Artinya: “Dari ‘Aisyah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah beraqiqah untuk Hasan serta Husain di hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan memerintah agar di hilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur) “. (HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 264, no. 7588)

Disunnahkan mencukur rambut bayi serta menamai di saat proses aqiqah berjalan. Nama yang diberi seharusnya memiliki kandungan arti yang baik, yang menggambarkan akhlak serta iman pada Allah SWT.

Pesta aqiqah dilaksanakan seperti pesta pernikahan tetapi dalam rasio yang lebih kecil. Dalam prosedurnya tujuan dari acara aqiqah ialah merealisasikan rasa sukur pada Allah SWT atas anugerah (anak) yang sudah diberikan-Nya.

Tidak cuma mencukur rambut serta menamai, proses aqiqah dibarengi dengan adzan serta iqamah. Ini disunnahkan sebab ikuti seperti yang dicontohkan oleh Rasullah SAW saat beliau membacakan adzan di telinga Hasan serta Husein waktu kedua-duanya dilahirkan.

MENDOAKAN ANAK YANG DIAQIQAH

Paling akhir dalam berharap keridhaan Allah jangan juga mendoakan anak yang diaqiqah. Mudah-mudahan dengan membuat aqiqah si anak itu tumbuh jadi manusia yang tetap berbakti pada agama, orangtua, serta bangsanya.

Berikut bacaan doa aqiqah yang seharusnya dipanjatkan:

اللهم احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ

Artinya: “Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, dan semua kejelekan serta maksiat. Jagalah dia dengan pengamanan serta tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan serta perlindunganmu yang lestari. Dengan hal itu aku mampu melakukan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan yang ada antara kami serta makhluk-Mu, yaitu akhlak mulia serta karunia yang sangat indah. Ya Allah, jadikan kami serta mereka untuk ahli pengetahuan, ahli kebaikan, serta ahli Al-Qur’an. Jangan kau buat jadi kami serta mereka untuk ahli kejelekan, keburukan, aniaya, serta nista.”

Melihat hadist tentang status tergadai yang menempel pada seorang anak yang baru lahir. Timbullah beberapa pertanyaan, diantaranya bagaimana hukum aqiqah bagi anak yang wafat sebelum diaqiqahkan?

Beberapa ulama memberi pendapat yang lain dalam meraih ini. Mazhab Syafi’i menyarankan untuk selalu lakukan aqiqah walau dia wafat sebelum hari ke-7, hari disunnahkannya untuk melakukan aqiqah,

Jumhur ulama memiliki pendapat jika seorang anak yang sudah diaqiqah wafat, karena itu anak itu bisa memberi syafaat buat ke-2 orang tuanya di akhirat kelak.

Demikian keterangan tentang pemahaman aqiqah, riwayat, hukum, waktu, serta tata langkah realisasinya. Mudah-mudahan tulisan ini jadi informasi berguna serta penuh karunia buat kita. Wallahu A’lam..Lantas bagaimana dengan penerapan akikah sebetulnya? Haruskah dikerjakan di saat si anak berusia tujuh hari menurut hadits kisah Abu Daud di atas.

Info Jasa Aqiqah